Apa sih Sebenarnya Zona Nyaman itu ? (bagian 1)

Posting bagian 1 dari 2 bagian dalam seri Seputar Zona Nyaman

Anda pernah naik KRL (Kereta Rel Listrik) Jakarta ? Setiap hari, ratusan ribu orang naik KRL jurusan manapun untuk berangkat atau pun pulang dari kerja. Saya pernah naik kereta ini pas jam pulang kantor dari Jatinegara ke Bekasi. Kebetulan jenisnya yang AC Ekonomi. Naiknya susah banget. Harus berebut. Setelah di dalam, bila mau dapat tempat duduk, juga harus berebut. Makin lama, kereta makin penuh. Banyak penumpang yang naik di stasiun-stasiun antara Jatinegara – Bekasi. Dan sepenuh apapun kereta itu, penumpang baru masih saja bisa masuk. Dan tentu saja makin membuat gerbong kereta tambah sesak. Saya sampai tidak bisa membalik badan. Sekeliling tubuh kita adalah penumpang lain. Maka keringat pun makin menganak sungai, padahal KRL tersebut jelas-jelas ber-AC, apalagi pintu dan jendela jelas tidak ada yang terbuka. Sangat berjubel dan pengap. Sampai-sampai ada seorang penumpang wanita yang pingsan karena tidak tahan mencium aroma keringat dari tubuh penumpang lain, dan jelas semua sulit untuk berkutik memberikan ruangan yang cukup untuk wanita tersebut.

Lalu, bagaimana kalau mau keluar? Ah, sebuah perjuangan keras juga. Saya harus bergerak perlahan-lahan membuka ruang diantara penumpang yang berjubel. Kaki terinjak atau menginjak kaki penumpang lain sudah biasa.

Tapi, ada yang membuat saya kagum. Banyak penumpang yang bisa mengobrol, bercanda dan tertawa terbahak-bahak di tengah situasi yang sangat tidak nyaman tersebut. Bahkan ada yang bisa main kartu! Luar biasa…

Saudara yang baik, itulah salah satu contoh zona nyaman yang negatif. Kondisi di kereta itu tidak nyaman (negatif). Tapi ratusan ribu orang toh terus saja naik KRL tersebut. Kenapa? Karena kondisi tidak nyaman tersebut telah diadaptasi dan ditoleransi. Setelah itu menjadi kebiasaan. Setelah biasa, maka kondisi tersebut lalu menjadi kondisi yang nyaman. Jadilah kondisi tidak nyaman tersebut menjadi kondisi nyaman.

Jadi, apa itu zona nyaman? Ia adalah kondisi yang :
1. diketahui,
2. terbiasa dialami / dilakukan,
3. ditoleransi,
4. diterima, dan
5. dirasa layak bagi seseorang / sekelompok orang.

Jadi, meskipun kondisi dalam kereta itu sebenarnya tidak nyaman, tapi karena kondisi itu sudah diketahui, setiap hari dialami (terbiasa), ditoleransi, diterima, dan dirasa layak menurut para penumpangnya bagi mereka, maka jadilah ia sebuah zona nyaman.

Kondisi di luar 5 aspek diatas disebut sebagai zona tidak nyaman. Kenapa tidak nyaman? Terutama karena kondisi tersebut tidak diketahui. Anda sangat mungkin merasa tidak nyaman (takut) untuk memasuki sebuah daerah yang sama sekali baru untuk anda, kan?

Kasus lain yang mungkin kita sudah hafal betul mengenai sejarah perjuangan bangsa kita. Betapa bangsa kita sudah mulai beradaptasi terhadap kondisi saat penjajahan Belanda selama 350 tahun, kemudian lambat laun beberapa kelompok orang mulai bangkit dan merasa tidak nyaman dalam posisi tertindas seperti demikian, lalu lahirlah berbagai macam peperangan-peperangan seperti Perlawanan 10 November di Surabaya, yang semuanya bertujuan untuk keluar dari zona kenyamanan akibat mulai terbiasa dengan penjajah. Hingga muncullah pejuang-pejuang yang berani melawan penjajahan bahkan rela mati karenanya, asalkan negara ini merdeka dan mencapai taraf kenyamanan yang lebih baik. Lalu akankah kita juga bersikap dan memiliki daya juang seperti para pahlawan dulu untuk melepaskan negeri ini dari zona kenyamanan (akibat toleransi dengan penjajah) ? Wow…luar biasa ya…

Alam Sadar dan Bawah Sadar

Sesuatu yang diketahui, terbiasa, ditoleransi, diterima dan dirasa layak oleh seseorang akan masuk ke alam bawah sadarnya. Itu sebabnya, zona nyaman berada di alam bawah sadar seseorang.

Alam sadar berbeda dengan alam bawah sadar. Bila setiap penumpang kereta ekonomi itu ditanya, “Apakah anda ingin menggunakan alat transportasi yang lebih baik?” Pasti banyak yang menjawab, “Ya, saya ingin”. Kenapa? Karena keinginan berada di alam sadar manusia.

Contoh lain adalah perokok. Setiap perokok tahu bahwa merokok itu buruk bagi kesehatannya. Dan bila ditanya apakah mereka ingin berhenti, pasti banyak yang menjawab ingin berhenti. Tapi kenapa keinginan itu jarang sekali yang terjadi? Karena merokok untuk mereka telah nyaman dilakukan. Pengetahuan akan buruknya rokok dan keinginan untuk berhenti merokok dikalahkan oleh kenyamanan merokok itu.

Alam bawah sadar seseorang sembilan kali lebih kuat dibanding alam sadarnya.

Secondary Gain (Keuntungan Sekunder).

Sebuah zona nyaman pastilah memberikan keuntungan. Nah, dalam kasus KRL di atas, secara primer sebenarnya, kondisinya merugikan (tidak nyaman). Tapi ternyata, kondisi tersebut justru memberikan keuntungan. Apa itu? Harga tiket yang murah, bisa bertemu dengan teman sependeritaan, adalah dua diantara keuntungan sekunder itu. Begitu besarnya keuntungan sekunder itu, sampai kenikmatannya mengalahkan kerugian dari kondisi primernya.

Secondary gain juga dirasakan oleh orang yang sakit, tapi banyak dijenguk oleh teman-temannya dan banyak mendapat hadiah. Kondisi primernya sebenarnya sakit. Tapi ia mendapat keuntungan sekunder berupa perhatian dan hadiah. Keuntungan sekunder ini bisa membuat orang sakit justru jadi betah dalam kondisi sakitnya. Hal ini bisa membuatnya tidak sembuh-sembuh.

Dua Zona Nyaman : Positif dan Negatif.

Contoh zona nyaman di atas adalah zona nyaman negatif. Bagaimana dengan zona nyaman positif? Ya jelas, zona nyaman positif adalah kondisi nyaman yang sesungguhnya. Dalam kasus berangkat kerja dari Bekasi ke Jakarta, zona nyaman positif diwakili oleh orang yang naik mobil bagus ber-AC, disupiri, bisa dengerin acara radio favorit, bisa makan minum dan tidur pula. Nyaman kan?

Dua zona nyaman ini, meski yang satu positif dan yang lain negatif tetap saja memberikan kenyamanan bagi pelakunya. Bila harus berubah, kedua-duanya akan merasa tidak nyaman.

Batas Atas dan Batas Bawah.

Sebuah zona nyaman dibatasi dua batas. Batas atas dan batas bawah.Batas bawah adalah kondisi nyaman minimal. Sedang batas atas adalah kondisi nyaman maksimal. Contohnya begini. Seorang sarjana yang baru lulus (fresh graduate) ketika mencari kerja biasanya punya kisaran gaji yang diinginkannya. Misalnya berkisar antara Rp. 2 juta sampai Rp. 5 juta.

Bila ada sebuah pekerjaan yang gajinya Rp. 1,9 juta, maka sang sarjana tidak akan mau menerimanya. Karena gaji tersebut di bawah kondisi nyaman minimalnya. Kalaupun ia terima, pasti ia menerima pekerjaan itu dengan terpaksa dan perasaan yang tidak enak, tidak puas, tidak nyaman. Dan, bila ada pekerjaan yang gajinya Rp. 6 juta, maka sang sarjana tidak akan mengirimkan lamaran untuk pekerjaan itu juga. Kenapa? Bukankah gaji Rp. 6 juta lebih tinggi dari Rp. 5 juta? Iya, lebih tinggi. Tapi justru karena itulah ia menghindarinya. Karena ia merasa dirinya tidak pantas untuk gaji sebesar itu. Kenapa merasa tidak pantas? Karena gaji tersebut lebih tinggi dari batas atas zona nyamannya.

Contoh lain begini. Seorang pengusaha punya zona nyaman omset bisnis dengan batas atas Rp. 1 Milyar. Ia menargetkan mencapai omset tersebut dalam 3 bulan. Lalu omset tersebut tercapai dalam 2 bulan. Apa yang akan dilakukan sang pengusaha sebulan terakhir? Tepat sekali. Bersantai dan menikmati kesuksesannya. Ia akan merasa sangat bangga dengan prestasinya itu. Dan ia baru akan bekerja keras lagi di akhir bulan ketiga atau di awal bulan keempat.

Mungkinkah di awal bulan ketiga itu sang pengusaha tetap bekerja seperti bulan-bulan sebelumnya? Mungkin. Bila ia sadar akan batas atas zona nyamannya dan segera meningkatkan batas atas tersebut.

Contoh lain berkaitan dengan jodoh. Setiap orang di alam bawah sadarnya, telah menetapkan jodoh yang layak untuk dirinya. Kelayakan itu pun ada batas bawah dan batas atasnya. Ia tidak akan menerima jodoh yang dibawah batas bawahnya. Yang menarik, ia juga cenderung menolak berjodoh dengan lawan jenis yang kondisinya berada di atas batas atasnya.

Hal ini menerangkan mengapa banyak orang miskin yang berjodoh dengan orang miskin lagi dan orang kaya berjodoh dengan orang kaya lagi. Karena sesama orang miskin punya batas-batas zona nyaman yang relatif sama. Demikian pula dengan orang kaya.

Mengapa para artis banyak yang berpacaran atau menikah dengan artis lagi? Karena zona nyamannya sama. Berbagai kesamaan ini lah yang saling menarik satu sama lain.

Apakah semua kasus di atas juga dialami oleh Anda? Lalu kenapa susah sekali keluar dari Zona Nyaman itu ? Bagaimana caranya ? Silahkan ikuti kelanjutannya pada tulisan berikutnya.

Bersambung

Jika Anda suka artikel diatas, dapatkan update terbaru gratis!

Series NavigationKenapa Susah Keluar dari Zona Nyaman? (bagian 2) >>

loading...

dr. Nasir

Silahkan akses http://dokternasir.web.id/about

4 thoughts on “Apa sih Sebenarnya Zona Nyaman itu ? (bagian 1)

  • 10 November 2009 at 20:52
    Permalink

    Ceritanya tanggung amat mas. Belum selesai

    Reply
  • 10 November 2009 at 21:58
    Permalink

    Maklum mas, aku bukanya lwt hp, jd byk keterbatasan

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

CommentLuv badge

Close
Get our Newsletters

Receive The Latest Posts Directly To Your Email - It's Free!! Enter your email, Signup, Check your email, then Confirm...