Jangan Panggil Saya Mbak (Based On True Story)

Seseorang memiliki nama, seseorang juga memiliki panggilan. Panggilan yang sopan sesuai etika, berkesan akrab atau panggilan sehari-hari yang telah berlaku umum di masyarakat. Bahkan terkadang penggilan itu dapat berupa panggilan khusus yang didapat dari jabatan atau pangkat yang diperolehnya. Bagaimana kalau ada seseorang yang tidak mau dipanggil bila bukan dengan panggilan gelarnya ?

Pagi itu di sebuah ruangan yang memiliki dinding berwarna putih terlihat seorang dokter perempuan tengah bersiap-siap untuk melakukan pelayanan kesehatan. Dokter tersebut adalah dokter umum yang berpraktik di salah satu klinik swasta di Jakarta.

Beberapa jam telah berlalu, sejumlah pasien telah diperiksa oleh sang dokter. Kemudian suster memanggil pasien terakhir. Tak lama kemudian, seorang bapak masuk ke dalam ruangan dan dipersilahkan duduk oleh sang dokter di bangku yang berada di depan mejanya. Dokter pun mulai menanyakan apa keluhan-keluhan yang dialami oleh bapak tersebut.

Bapak yang terlihat sudah berusia 40 tahunan ini mulai menceritakan apa saja yang dikeluhkannya. Dengan perlahan-lahan dan mendetail, bapak itu menceritakan awal mula keluhan yang dirasakan terutama pada tenggorokannya. Mulai dari badan panas, batuk-batuk, sakit waktu menelan, semuanya diceritakannya pada dokter.

Selanjutnya dokter mempersilahkan pasien untuk berbaring di tempat tidur periksa. Dengan seksama sang dokter mulai memeriksa tubuh si bapak. Setelah melakukan pemeriksaan, dokter menjelaskan apa hasil yang diperoleh dari pemeriksaan tersebut. Tak lupa sang dokter mencatat hasil pemeriksaan tadi pada kumpulan rekam medis.

Sang dokter yang terlihat sudah mulai lelah kemudian menuliskan resep obat untuk penyakit bapak tersebut. Resep itu pun diserahkannya sambil memberikan beberapa saran apa yang sebaiknya dilakukan bapak tadi untuk mempercepat penyembuhan penyakitnya.

Bapak itu pun mengangguk-angguk, namun tampak seperti masih ada masalah yang dipikirkannya. Akhirnya ia pun kemudian melontarkan pertanyaan, “Badan saya yang panas ini memangnya ada kaitannya dengan radang yang di tenggorokan ya, mbak ?” Si pasien tampak serius menantikan jawaban.

Tak disangka, dokter malah menjawab pertanyaan tadi dengan nada ketus, “Saya bukan kakak Anda ! Saya kan dokter.” Bapak itu pun terkejut mendengar bentakan dokter tersebut. Dengan wajah menahan heran, bapak itu pun berkata, “Saya tidak maksud apa-apa. Saya rasa Anda pantas dipanggil Mbak, karena masih muda. Kalau Mbak tidak terima ya sudah, tapi jangan memarahi saya.” Kemudian si bapak langsung permisi dengan penuh tanda tanya.

Duh, susah juga ya jadi pasien. Bagaimana tanggapan Anda ?

Jika Anda suka artikel diatas, dapatkan update terbaru gratis!

loading...

dr. Nasir

Silahkan akses http://dokternasir.web.id/about

15 thoughts on “Jangan Panggil Saya Mbak (Based On True Story)

  • 17 September 2008 at 20:26
    Permalink

    menurut Q, beberapa orang menjadi lebih sensitif pada saat dia sedang kecapekan, tdk mood, atau bila orang tersebut sedang da masalah.

    biasany mereka lebih sensitif sampai hal terkecil sekalipun.masalah panggilan, apabila Qta sedang berada di tempat publik seperti rumah sakit, kantor, dsb Qta lebih baik memanggil seseorang dengan sebutan gelarny contohny dokter td.
    jangan memanggil orang yang Qta belum kenal dengan sebutan yang biasa Qta gunakan shari-hari dlm keluarga ato teman Qta apalagi mood orang tersebut sedang tidak enak. dan bila Qta mo bertanya ato sharing ke seseorang Qta harus tau kondisi orang tersebut, pa orang tu sedang dalam kondisi mood yang baik ato tidak. biasany Qta bisa tau kondisi mood seseorang dari raut wajahny, cara dan intonasi bicarany, dan jg sikapny.
    bila Qta tau orang tsb dlm kondisi mood yg tdk enak, sebaikny jangan terlalu menggangguny dengan pertanyaan2 ato hal lainny, karena biasany ornag tersebut akan mudah marah kpd anda.

    anda ljg begitu kan, bila mood anda sedang tidak bagus dan ada orang yang mengganggu anda…bagaimana pereasaan anda?

    Reply
    • 3 December 2008 at 22:39
      Permalink

      @roni, Terima kasih udah mampir, memang psikologis orang berbeda-beda. Pengalaman saya sendiri ketika saya sudah mulai jenuh karena pasien banyak, fisik mulai lelah, bahkan rasanya untuk sekedar senyum pun nyaris sulit. Ketika ada pasien seperti di atas, rasanya ingin berkata seperti dokter di atas, tapi untungnya saya sering pura-pura tidak mendengar atau tidak menanggapi atau menjawab sekedarnya saja. Emang sulit sih ya, wong dokter juga manusia yang punya emosi… ya ga?!

      Reply
  • 18 September 2008 at 12:18
    Permalink

    betul skali ^^. tp jangan sampai Qta sendiri lupa dengan profesionalitas Qta sendiri okey ^^

    Reply
  • 19 September 2008 at 10:16
    Permalink

    jangan panggil Q bos, panggil aja Q roni.
    soalny q jauh lebih muda dr dr.Nasir, malah seharusny Q panggil kakak ke anda ^^. makasi sebelumny

    Reply
    • 3 December 2008 at 22:40
      Permalink

      @roni, soal umur ga jadi masalah, ga perlu dibesar-besarkan, itu cuma perbedaan waktu lahir aja. Yang penting adalah isi otaknya, gagasannya, ide-idenya, apakah bisa membawa manfaat buat orang lain ga. Kalo lebih tua tapi otaknya ngeres dan bikin orang lain kesal, kan sia-sia saja hidupnya.
      Panggilan bos, adalah penghargaan. Saya sering bilang itu jika ide brilian orang lain lebih cepat daripada saya. Salam sukses buat Anda, saudara Roni.

      Reply
  • 19 September 2008 at 21:14
    Permalink

    amin…iyah Qta sama2 sukses, klo sukses sendirian kan g enak g da temenny hehehehe ^^

    Reply
    • 3 December 2008 at 22:40
      Permalink

      @roni, Siiplah… Oya, Ngomong-ngomong sukses, mau ikut sukses besar sama saya tidak? Saya dan rekan-rekan dengan menggarap usaha bisnis bagus banget yang sangat prospektif. Barangkali saudara Roni ada waktu untuk mendengar penjelasan saya, silahkan hubungi saya melalui http://dokternasir.web.id/contact. Saya tunggu, Trims

      Reply
  • 22 September 2008 at 21:00
    Permalink

    apa itu tienshi?
    klo itu tienshi, saya tidak tertarik. bkn karna apa2, tp mungkin sejak awal saya berbeda pikiran tentang itu

    Reply
  • 16 December 2009 at 13:40
    Permalink

    Hehehe… mumpung nemu posting yang ini dari Twitter, saya jadi pingin nanya: kenapa sih dokter2 tuh senang menyebut dirinya sebagai “Dokter [Nama]” bahkan dalam situasi paling informal sekaligus? Contohnya ya Mas Nasir ini, yang dimana2 menulis nama sebagai “Dokter Nasir”… hehehe… Contoh lain ada juga di milis SMA saya. Dulu2 jaman masih jadi sesama anak sekolahan ya kita panggil nama aja. Lhaa… sekarang mentang2 udah jadi dokter kulit, kalau memperkenalkan diri sebagai “Dokter [Nama]”

    Apa kewajiban seperti itu memang ada, Mas? Satu paket dengan kuliah kedokteran, gitu? Hehehe… Soalnya kalau di kuliahan saya dulu nggak pernah dibilang kalau entar lulus harus membawa gelar akademis/spesialis 😉 Dan saya perhatikan kecenderungan ini hanya ada pada “dokter”.

    Kaitannya dengan posting Mas Nasir, saya kira semacam “Esprit de Corps” muncul dari kebanggaan akademik sebagai dokter. Dengan demikian si dokter (setidaknya di kasus ini) merasa “direndahkan” karena HANYA dipanggil “Mbak”, bukan “Dok” atau “Dokter”. Mungkin memang fatigue atau mood yang sedang jelek menjadi predisposisi kesensitivannya. Namun… tidak dapat kita pungkiri bahwa dia meledaknya adalah ketika dipanggil “Mbak”, sehingga tidak perlu menjadi jenius untuk mempertanyakan: kenapa justru topik ini yang menjadikan predisposisi memicu suatu perilaku agresivitas nyata?

    Either karena esprit de corps yang membuat dia merasa “lebih” dari pasiennya, atau karena si Mbak Dokter ini inferior dengan kemudaannya 🙂 Dan inferior ini yang perlu dipertanyakan kaitannya dengan pengalaman lain: apakah kemudaan ini membuat kredibilitas di mata klien rendah, atau karena kemudaannya ini dia mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan dari seniornya, atau apa… 🙂
    .-= -may-´s last blog ..Taman-taman Air [Mata] =-.

    pada Jum’at, 18 Des 2009 16:12:20

    Aduh…jadi kesindir berat nih…terkadang sebenarnya hanya sebatas menjual jasa aja sih mbak. Tapi kalo saya sih, masih friendly kok sama teman-teman, malah aneh kalo dipanggil “dok” sama teman sendiri. Bagi saya, gelar itu hanya sebatas kepentingan profesi, komunitas dan di tempat yang selayaknya menjual profesi. Kalo di blog ini juga, sebatas komunitas, walaupun jelas saya “sangat” membuka diri untuk menerima kunjungan dan komentar dari siapapun, karena saya senang berteman. Kalo membahas artikel di atas, memang anekdot yang perlu menjadi pertimbangan, bahwa fleksibitas dalam kehidupan sosial adalah sangat penting. BTW, trims ya mbak buat komentarnya… 🙂

    Reply
  • 16 December 2009 at 13:44
    Permalink

    Ohya, menjawab pertanyaan terakhir, kalau saya jadi pasiennya, saya akan balik membentak, “So? Emangnya kalau Anda dokter kenapa? Anda “dewa” yang harus disembah dan tidak boleh dipanggil dengan sebutan bagi para “mortal”?”

    *sambil segera keluar dari ruangan praktek, dan mencatat nama si dokter untuk kemudian dicela2 di blog… HAHAHAHA…*
    .-= -may-´s last blog ..Taman-taman Air [Mata] =-.

    Reply
  • 11 March 2010 at 18:32
    Permalink

    kalo saya sih udah biasa dipanggil mb.. ya gpp.. toh saya juga masih muda. tapi…. yg saya paling merasa tidak nyaman kalo dipanggil bu bidan atau suster! duuhh!!! maklum, kalo kerja di puskesmas masyarakat taunya kalo dokter itu laki2 n kalo perempuan itu biasanya bidan atau suster.. hare geneee… emangnya cewek gak bisa jd dokter?? (pernah terjadi wkt saya masih ko-ass, dokter Sp.A dipanggil suster oleh pasien n dibilang.. lho kalo dokter kan laki2, kalo perempuan kan suster!)
    Kalo kejadian spt ini biasanya saya cuma bilang… maaf bu/pak.. saya bukan suster/bidan, saya dokter. (that simple!)

    Reply
  • 14 May 2010 at 07:52
    Permalink

    kalau saya jd pasien ya biarin aj dr pd tambah sakit, malah – malah bisa jd setruk mikirin orang lain. Pikir aja sakit yg sedang kita alami. agap aja dr nya lg banyak pikiran mungkin pas bulanan atau br ada masalah ama keluarga. sikapi aja dg bijaksana.
    buat apa pikir yang berat2 ….

    pada Jum’at, 14 Mei 2010 23:31:12

    Tul… 🙂

    Reply
  • 9 December 2011 at 21:07
    Permalink

    saya rasa bapaknya juga salah…kenapa musti panggil mbak?? knapa gak panggil ‘dok’ aja… nah ibu dokternya juga begitu…harusnya gak langsung emosi mengingat pasien adalah konsumen harusnya dilayani dengan ramah….

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

CommentLuv badge

Close
Get our Newsletters

Receive The Latest Posts Directly To Your Email - It's Free!! Enter your email, Signup, Check your email, then Confirm...